Kamis, 29 Mei 2014

Pengertian / Definisi Ibadah

Ketika berbicara tentang tujuan hidup manusia, kaum muslimin tentu sudah sepakat bahwa tujuan hidup ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk beribadah kepada Alloh SWT. Hal ini mengapa? Karena di dalam Al Quran sendiri, tepatnya pada surah Adz Dzaariyaat ayat 56-58, Alloh SWT telah berfirman mengenai tujuan utama penciptaan manusia tsb, yang tidak lain adalah semata-mata untuk beribadah ke pada-Nya. Alloh SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ  مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ  إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ


Artinya: 
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat: 56-58]

Lantas ketika ditanya lebih lanjut, mengenai ibadah itu sendiri, kita terkadang bingung untuk menjelaskannya. Oleh karena itu apa sih arti dari ibadah tsb? Definisi Ibadah, bila diartikan secara bahasa atau etimologi, maka ibadah memiliki arti ketaatan, penghambaan, penyembahan/ pengagungan,  dan merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan bila diartikan secara terminologi, menurut syariat, ibadah memiliki banyak arti, tetapi makna dan maksudnya adalah satu. Definisi itu antara lain adalah: Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh hal-hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang batin. 

Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati) atau ada yang menyebutnya dengan ibadah i'tiqodiyah (keyakinan/kepercayaan). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati) atau ada yang menyebutnya dengan istilah ibadah qoiliyah saja atau ibadah lisan. Sedangkan shalat, zakat, haji, jihad, berhukum dengan hukum Alloh adalah ibadah-ibadah amaliyah (amalan) atau ada yang menyebutnya dengan ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). 


Selain itu masih banyak lagi penggolongan/jenis-jenis ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan, yaitu: Ibadah Mahdhoh (khusus) dan Ibadah Ghoir Mahdhoh.Ibadah Mahdah yaitu segala jenis peribadatan kepada Allah yang keseluruhan tatacaranya telah ditetapkan oleh Allah, Manusia tidak berhak mencipta/merekayasa bentuk ibadah jenis ini. para ulama menetapkan qaidah iaitu ‘Asalnya ibadah itu haram, terlarang’ (kecuali dengan perintah Allah dan petunjuk Muhammad saw). Ibadah jenis ini diistilahkan oleh para fuqaha dengan perkataan Al Ibadah atau Al Ubudiyyah. Ibadah jenis ini seperti shalat, puasa, zakat, aqiqah dan qurban. Ibadah Ghoir Mahdah yaitu segala jenis peribadatan kepada Allah dalam pengertian yang luas seperti  kenegaraan, ekonomi, pendidikan, sosial, hubungan luar negeri, kebudayaan, undang-undang kemasyarakatan, dan teknologi dan sebagainya. Ibadah jenis ini diistilahkan oleh para fuqaha dengan perkataan 'Al-Muamalah' (iaitu hubungan antara manusia dengan manusia). Peranan syariat dalam hal ini adalah memperbaiki sesuatu yang telah diada-adakankan oleh manusia tsb, sehingga manusia dibenarkan bahwa sesuatu yang diada-adakan tsb selaras dengan hukum-hukum/ peraturan Allah (di dalam Al Quran dan As Sunnah)! 

Selain itu Ibadah juga terbagi pada Ibadah Fardiyah (perseorangan) dan Ibadah Jamaiyah (kewajiban secara bersama atau berjamaah)Ibadah Fardiyah yaitu amalan ibadah yang menjadi kewajiban setiap orang, seperti sholat, zakat, haji dan sebagainya. Ibadah seperti ini dapat dilakukan di mana saja baik di dalam negara Islam atau di negara bukan Islam. Ibadah jamaiyah yaitu ibadah yang diwajibkan ke atas seluruh umat (sebagai kewajiban bersama). Sebagai contoh perlaksanaaan hukum hudud, hukum qishas dan sebagainya. 

Penciptaan manusia mempunyai tujuan dan tugas risalah yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh Allah SWT. Tugas dan tanggungjawab manusia, sebagaimana di dalam al-Quran yaitu melaksanakan ibadah kepada Allah dan sebagai khalifah-Nya. Firman Allah swt. “Dan Aku Tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada Ku”. (QS 51: 56) dan “Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah (penguasa-penguasa) di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derjat untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu”. (al-An’aam: 165)

Tugas sebagai khalifah Allah ialah memakmurkan bumi ini dengan mentadbir serta mengurusnya dengan peraturan dan hukum Allah. Tugas beribadah kepada Allah dalam rangka melaksanakan segala aktivitas pengurusan bumi tidak keluar dari panduan/ ketentuan Allah swt. dan dikerjakan dengan perasaan ikhlas dengan mengharap keridhaan Allah. 

Allah yang menetapkan ibadah pada makhluk-Nya. Dia pulalah yang mengutus para Rasul-Nya untuk berdakwah atau menyeru ummatnya kepada peribadatan kepada Allah semata, dan melarang dari peribadatan kepada selain-Nya, Allah berfirman : “Sungguh Kami mengutus seorang rasul pada setiap kelompok manusia untuk menyerukan beribadalah kepada Allah saja dan tinggalkan thoghut”. (An Nahl:36). Firman allah: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan padanya bahwa tidak dan sesembahan yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku”. (Al Anbiya’:25)

Ibadah merupakan hikmah yang karenanyalah diciptakan jin dan manusia. Dan karena ibadah ini pulalah diciptakan langit dan bumi, dunia dan akhirat, jannah (surga) dan nar (neraka). Dan karena ibadah inilah Allah mengutus para rosul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, mensyariatkan hukum-hukum-Nya dan menjelaskan halal dan haram untuk menguji makhlukNya, siapa diantara mereka yang paling baik amalnya.Para nabi dan rasul-Nya menjadi contoh teladan yang paling baik kepada kita semua dalam setiap pekerjaan dan amalan, dijelaskan dalam al-Quran: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS 33: 21).

Sebaiknya kita berpikir sejenak setiap apa yang akan dilakukan oleh lisan, hati dan anggota tubuh kita, apakah yang dilakukan tersebut termasuk ibadah atau bukan, jika bukan ibadah maka tidak boleh dilakukan seperti menggunjing, mengumpat, sombong, riak ,angkuh, tidak ikhlas, mencaci orang, mengkafirkan orang dll. Selain itu apakah cara melakukan amal ibadah itu telah sesuai dengan ketentuan dan syarat-rukun ibadah serta amal sholeh yang sah. Sehingga kita tidak tertipu dengan amalan kita sendiri, dengan menyangka bahwa kita telah banyak melaksanakan amal ibadah dengan sempurna tetapi dihadapan allah tidak demikian. wallahualam

NB: dikutip dari berbagai sumber...
http://atabiq.blogspot.com/p/husna-travel.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar